Selasa, 22 Januari 2013

Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Disadari maupun tidak ternyata pendidikan mampu mengangkat harkat dan martabat suatu bangsa. Disamping itu pendidikan dapat meningkatkan kemampuan bangsa menuju bangsa yang mandiri. Pendidika  yang rendah ternyata merendahkan semua elemen bangsa, pembangunan tidak lancar, rendahnya kualitas generasi muda, dan kemajuan bangsa menjadi terhambat.
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003, bahwa Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Guru merupakan unsur penting dalam keberhasilan pendidikan anak bangsa ini. Walau sebenarnya keberhasilan pendidikan tidak hanya tergantung guru saja, banyak faktor yang turut mempengaruhi. Pendidikan kita yang sangat memanjakan anak, cenderung berganti-ganti kurikulum, kurangnya fasilitas pendidikan, kesadaran masyarakat yang masih kurang mendukung tentang pendidikan, maupun kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada siswa dan guru adalah faktor yang menjadi penghambat kemajuan pendidikan.
Setiap guru pasti mendambakan anak didiknya dapat berhasil dalam belajar. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Dalam satu kelas pasti pernah menemui satu atau beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar. Dalam kelas kadang dijumpai anak yang selalu membuat ulah, selalu mengacau, rendah diri, malas, lambat manghafal, ataupun tidak menyukai pelajaran tertentu. Di sisi lain ada anak yang biasa ceria tetapi dengan tiba-tiba saja menjadi murung dan malas belajar, sehingga nilainya mengalami penurunan. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apa penyebabnya? Bagaimana cara mengatasinya? Dalam makalah yang sederhana ini penulis akan menguraikan satu-persatu pertanyaan-pertanyaan di atas.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana cara mengatasi kesulitan belajar siswa?











BAB II
KONSEP DAN FAKTA
KONSEP
2.1 Jenis Kesulitan Belajar Siswa Kelas I SD Model.
SD Model adalah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional sehingga dalam penerimaan peserta didik baru diperkenankan mengadakan seleksi. Seleksi yang dilaksanakan untuk menentukan calon siswa SD Model adalah tes psikhologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui kematangan dan kesiapan siswa mengikuti pelajaran di sekolah dasar. Namun demikian setelah mereka duduk di kelas I ternyata ditemukan beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Kesulitan belajar tersebut antara lain:
5.1.1 Anak belum mempunyai kemampuan prasyarat.
Kemampun prasyarat yang dimaksud di sini adalah kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kami sadar bahwa kemampuan tersebut memang tidak menjadi suatu keharusan yang dimiliki oleh siswa kelas I, namun bila siswa sudah dapat membaca, menulis dan berhitung akan lebih memudahkan dalam pembelajaran lebih lanjut. Dengan demikian siswa yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung menjadi hambatan tersendiri.
5.1.2 Anak yang mempunyai kelainan fisiologis.
Ada beberapa siswa yang mempunyai kelainan fisiologis, misalnya kurang sempurnanya pendengaran, penglihatan, dan pengucapan suatu kata.
5.1.3 Pengendalian emosi
Banyak siswa kelas I SD Model yang pengendalian emosinya belum baik, manja. Hal ini dapat dimaklumi karena mereka berasal dari keluarga yang mempunyai latar belakang berbeda-beda, kebanyakan dari keluarga yang kurang mempunyai waktu untuk anaknya.
FAKTA
Sistem pembelajaran di SD Model adalah perpaduan antara sistem pembelajaran secara konvensional dan non konvensional dengan berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) dan IT (Information Teknology). Pembelajaran di SD Model berpusat pada siswa dengan mengoptimalkan pelayanan kepada siswa. Berikut ini contoh model pembelajaran di SD Model.
a.       Berbaris dan mengucapkan password masuk kelas.
Sebelum masuk kelas siswa berbaris dipimpin oleh salah seorang siswa yang piket hari itu. Kemudian guru menentukan password yang harus dijawab oleh siswa. Siswa yang berhasil menjawab berhak masuk terlebih dahulu dan memilih tempat duduk yang disukai.
Kegiatan ini untuk menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses belajar mengajar. Selain itu memotivasi siswa untuk selalu belajar di rumah sehingga anak lebih siap dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.
b.      Berdoa.
Siswa berdoa sesuai dengan agama yang dianutnya dipimpin oleh salah seorang siswa yang piket hari itu. Apabila dalam satu kelas agama yang dianut oleh siswa lebih dari satu, maka berdoa secara bergantian. Berdoa dilaksanakan pada awal dan akhir pembelajaran,

c.       Pagi berbagi.
Dalam kegiatan pagi berbagi beberapa siswa secara bergiliran mengungkapkan perasaannya pagi itu. Selanjutnya siswa yang lain boleh menanggapi atau bertanya.
Tujuan kegiatan ini adalah:
·         Untuk mengalihkan suasana di luar kelas ke suasana belajar dalam kelas.
·         Untuk menetralisir perasaan anak baik yang sedih maupun gembira.
·         Untuk apersepsi pelajaran.
d.      Pembelajaran secara klasikal
Pembelajaran dikemas sedemikian rupa sehingga anak aktif dan senang. Di sini dibutuhkan kreatifitas guru agar anak tidak terbebani dalam belajar.
e.       Pembelajaran kelompok
Setelah pembelajaran secara klasikal anak-anak dibagi dalam kelompok. Pembagian kelompok bervariasi tergantung dari materi pelajaran.
f.       Tugas individu.
Setelah menyelesaikan tugas secara kelompok kemudian siswa mengerjakan tugas secara individu.
 g.  Reading.
Reading adalah kegiatan membaca bebas setelah siswa istirahat selama 15 menit. Kegiatan ini selain bertujuan untuk mengalihkan sistuasi istirahat ke situasi pembelajaran juga untuk menambah ilmu pengetahuan siswa, mempelancar siswa dalam membaca, dan membimbing siswa yang belum dapat membaca.



BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
3.1 Tanda-tanda Siswa Mengalami Kesulitan Belajar.
Kesulitan belajar bila tidak segera ditangani dengan baik dan benar akan menimbulkan berbagai bentuk gangguan emosional yang akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidupnya kelak di kemudian hari. Kepekaan orang tua, guru di sekolah serta orang-orang di sekitarnya sangat membantu dalam mendeteksinya, sehingga anak dapat memperoleh penanganan dari tenaga profesional sedini dan seoptimal mungkin, sebelum menjadi terlambat. Kesulitan belajar kadang-kadang tidak terdeteksi dan tidak dapat terlihat secara langsung. Setiap individu yang memiliki kesulitan belajar sangatlah unik. Seperti misalnya anak yang sulit membaca, menulis, dan mengeja, tetapi sangat pandai dalam berhitung atau menjawab berbagai pertanyaan lisan. Pada umumnya, individu dengan kesulitan belajar memiliki intelegensi rata-rata bahkan di atas rata-rata. Seseorang terlihat “normal” dan tampak sangat cerdas tetapi sebetulnya ia mengalami hambatan dan menunjukkan kemampuan yang tidak semestinya dicapai dibandingkan dengan anak seusia dengannya.
Tanda-tanda kesulitan belajar sangat bervariasi dan tergantung pada usia anak. Berikut ini tanda-tanda siswa yang mengalami kesulitan belajar pada anak usia sekolah:
Ø  Daya ingatnya (relatif) kurang baik.
Ø  Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca. Misalnya huruf d dibaca b, huruf w dibaca m.
Ø  Lambat untuk mempelajari hubungan huruf dengan bunyi pengucapannya.
Ø  Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam matematika, misalnya tidak dapat membedakan tanda + (tambah) dengan – (kurang), tanda + (tambah) dengan x (kali), dan lain-lain.
Ø  Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat.
Ø  Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan satu tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas.
Ø  Impulsif (bertindak sebelum berfikir).
Ø  Sulit konsentrasi atau perhatian mudah teralih.
Ø  Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah maupun di rumah.
Ø  Tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
Ø  Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-hari. Misalnya: menyusun jadwal pelajaran.
Ø  Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah tersinggung atau acuh terhadap lingkungannya.
Ø  Menolak bersekolah.
Ø  Kesulitan dalam memahami kalimat.
Ø  Kesulitan dalam menyimpulkan suatu bacaan.
Ø  Sering menghindar dari tugas membaca dan menulis.
Ø  Kesulitan menjawab suatu pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/ atau tulisan.
Ø  Kemampuan daya ingat lemah.
Ø  Bekerja lamban.
Ø  Bisa salah dalam membaca informasi
Apabila ditemukan siswa mengalami hal di atas segeralah melakukan penanganan secara tepat.
3.2 Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor penyebab kesulitan belajar dapat berasal dari diri siswa sendiri dan dapat juga berasal dari luar. Para pakar seperti Cooney, Davis dan Henderson (1975) telah mengidentifikasikan beberapa faktor penyebab kesulitan tersebut, di antaranya:
3.2.1 Faktor Fisiologis
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkait dengan kurang berfungsinya otak, susunan syaraf ataupun bagian-bagian tubuh lain. Para guru harus menyadari bahwa hal paling berperan pada waktu belajar adalah kesiapan otak dan sistem syaraf dalam menerima, memproses, menyimpan, ataupun memunculkan kembali informasi yang telah disimpan. Kalau ada bagian yang tidak beres pada bagian tertentu dari otak seorang siswa, maka dengan sendirinya si siswa akan mengalami kesulitan belajar. Dapat kita bayangkan kalau sistem syaraf atau otak siswa kita karena suatu hal kurang berfungsi secara sempurna. Akibatnya tentu ia akan mengalami hambatan ketika belajar. Di samping itu, siswa yang sakit-sakitan, tidak makan pagi, kurang baik pendengaran, penglihatan ataupun pengucapannya sedikit banyak akan menghadapi kesulitan belajar.
3.2.2 Faktor Sosial
Merupakan suatu kenyataan yang tidak terbantahkan jika orang tua dan masyarakat sekeliling sedikit banyak berpengaruh terhadap kegiatan belajar anak dan kecerdasan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa sekolah adalah cerminan masyarakat dan anak adalah gambaran orang tuanya. Oleh karena itu ada beberapa faktor penyebab kesulitan belajar yang berkait dengan sikap dan keadaan keluarga serta masyarakat sekeliling yang kurang mendukung siswa tersebut untuk belajar sepenuh hati.
3.2.3  Faktor Kejiwaan.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar ini berkaitan dengan kurang mendukungnya perasaan hati (emosi) siswa untuk belajar secara sungguh-sungguh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang dapat mempelajari suatu pelajaran dengan baik akan menyenangi mata pelajaran tersebut. Begitu pula sebaliknya, siswa yang tidak menyenangi suatu mata pelajaran tertentu biasanya disebabkan karena tidak atau kurang berhasil mempelajari mata pelajaran tersebut.
3.2.4 Faktor Intelektual.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar siswa ini berkaitan dengan kurang sempurnanya atau kurang normalnya tingkat kecerdasan siswa. Setiap siswa mempunyai tingkat kecerdasan yang berbeda. Ada siswa yang sangat sulit menghafal sesuatu, ada yang sangat lamban menguasai materi tertentu, ada yang tidak memiliki pengetahuan prasyarat dan ada juga yang sulit membayangkan dan bernalar. Hal-hal yang disebutkan tadi dapat menjadi faktor penyebab kesulitan belajar pada diri siswa tersebut.
3.2.5  Faktor Non-sosial.
Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah faktor guru di sekolah, alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, dan kurikulum.



BAB IV
PENUTUP

5.1 Kesimpulan.
Ø  Setiap kelas pasti terdapat siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Ø  Siswa yang mengalami kesulitan belajar harus segera mendapat penanganan dan bantuan.
Ø  Dalam mengatasi kesulitan belajar siswa dibutuhkan kesabaran, keuletan dan kreatifitas guru.
5.2 Saran-saran.
Ø  Sebagai seorang guru harus membantu peserta didiknya yang mengalami kesulitan belajar.
Ø  Dalam mengatasi kesulitan belajar siswa perlu kerjasama antara guru, sekolah, dan orang tua.








DAFTAR PUSTAKA

Asri Budiningsih, C. (2003). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
Cooney, T.J., Davios, E.J., Henderson, K.B. (1975). Dynamics of Teaching Secondary School Mathematics. Boston: Houghton Mifflin Company.
--------. (2008) Kurikulum SD Model Kabupaten Sleman. Ngemplak. TK dan SD Model Kabupaten Sleman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar